Bentrok Pecahan FARC d...

Bentrok Pecahan FARC di Kolombia Tewaskan 48 Orang Jelang Pilpres

Ukuran Teks:

AktualBersuara.com, Kolombia – Bentrokan antara dua faksi pecahan gerakan gerilya FARC pecah di wilayah Amazon, Kolombia, menewaskan 48 orang. Peristiwa ini terjadi menjelang pemilihan presiden pada 31 Mei. Pertempuran yang dimulai sejak Senin (25/5) itu dilaporkan memuncak pada Kamis (28/5), dengan jenazah korban masih bergelimpangan di lokasi.

Wali Kota ibu kota regional San Jose del Guaviare, Willy Rodriguez, menyatakan bahwa jenazah-jenazah korban masih tergeletak di lokasi bentrokan. San Jose del Guaviare berjarak sekitar enam jam dari lokasi pertempuran di dusun Vereda Piripal.

"Jenazah-jenazah tergeletak bertumpuk di sana, mereka perlu segera dievakuasi," kata Rodriguez kepada AFP, seperti dilansir Jumat (29/5/2026).

Diketahui, Kolombia diguncang gelombang kekerasan terburuk sejak FARC meletakkan senjata pada 2016. Sebelumnya, FARC terlibat perang setengah abad melawan pemerintah.

Berbagai kelompok gerilyawan kecil kini saling berebut kendali atas wilayah hutan yang dulunya dikuasai FARC. Perebutan ini termasuk keuntungan dari perdagangan narkoba dan pertambangan ilegal.

Menurut wali kota, jumlah korban tewas sementara diperoleh dari laporan masyarakat setempat. Sumber militer mengatakan kepada AFP bahwa pertempuran di wilayah basis historis FARC itu dimulai sejak Senin.

Belum ada informasi apakah bentrokan masih berlangsung hingga saat ini. Tim penyelamat belum berhasil mencapai lokasi kejadian.

Pertumpahan darah ini menjadi pukulan baru bagi strategi "perdamaian total" Presiden sayap kiri Gustavo Petro. Strategi tersebut dinilai gagal dan menjadi sorotan utama dalam kampanye pemilihan presiden.

Senator sayap kiri Ivan Cepeda, yang memimpin persaingan untuk menggantikan Petro, berjanji akan melanjutkan dialog dengan kelompok bersenjata. Sementara itu, para pesaing dari kubu kanan memiliki pandangan berbeda.

Pengacara Abelardo de la Espriella, pendukung Donald Trump yang berhaluan keras, menilai kelompok pemberontak harus dihancurkan melalui operasi militer.

Situasi keamanan menjadi perhatian besar dalam pemilu yang diwarnai pembunuhan, penculikan, dan serangan bom. Menteri Pertahanan Pedro Sanchez memastikan kesiapan pengamanan.

Sanchez mengatakan sebanyak 408 ribu personel keamanan telah dikerahkan. Mereka didukung pesawat, kapal, drone, sistem anti-drone, dan kendaraan lapis baja untuk memastikan pemungutan suara berlangsung aman dan damai.

Jika tidak ada kandidat yang meraih lebih dari 50 persen suara, putaran kedua akan digelar. Putaran kedua antara dua kandidat teratas dijadwalkan pada 21 Juni.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan